Sistem kelola limbah sisa MBG menjadi aspek krusial dalam menjaga keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis tanpa meninggalkan beban pencemaran lingkungan. Badan Gizi Nasional mendorong seluruh SPPG menerapkan prinsip zero waste dengan mengolah limbah organik dan cair menjadi produk bernilai ekonomis.
Lebih jauh lagi, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menegaskan pengelolaan sampah harus menjadi bagian integral dari program MBG mengingat TPA Sarimukti akan kelebihan kapasitas pada dua ribu dua puluh enam.
Komponen Sistem Kelola Limbah Sisa MBG
Instalasi Pengolahan Air Limbah
IPAL berkapasitas 8,47 meter kubik per hari menjadi syarat wajib setiap SPPG untuk mengolah limbah cair dari aktivitas mencuci dan memasak. Sistem kelola limbah MBG menggunakan teknologi grease trap untuk menangkap minyak dan lemak sebelum masuk proses biologis. Proses anaerob dan aerob dengan bantuan mikroorganisme mendegradasi polutan organik hingga air buangan memenuhi baku mutu lingkungan.
SPPG Bandarsyah Natuna tengah membangun IPAL untuk mengolah limbah melalui penyaringan hingga pembersihan agar air buangan lebih aman. Kepala SPPG Asih menjelaskan selama ini limbah cair dialirkan ke septic tank karena belum ada fasilitas pengolahan khusus. Sementara itu, Wamen LH telah mengecek IPAL di Lanud Husein Sastranegara Bandung dan melihat penangkap sisa makanan yang diproses beberapa kali hingga air keluar menjadi lebih bersih.
Menggunakan peralatan berkualitas dari pusat alat dapur mbg termasuk sistem drainase dan grease trap membantu SPPG memenuhi standar pengelolaan limbah sesuai regulasi BGN dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Pengolahan Limbah Organik
SPPG Margomulyo Seyegan Sleman menjadi teladan sistem kelola limbah sisa MBG dengan mengubah sisa makanan menjadi media biopori, pakan maggot, dan pupuk organik. Kepala SPPG Joni Prasetyo menjelaskan tidak ada sisa makanan terbuang percuma karena limbah organik masuk biopori sebagai pupuk atau menjadi pakan maggot. Akibatnya, program MBG tidak hanya membantu kebutuhan gizi tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan ekonomi lokal.
Strategi Optimalisasi Sistem Kelola Limbah Sisa MBG
Pendampingan Pemerintah Daerah
Dinas Lingkungan Hidup Pamekasan memberikan pendampingan kepada setiap SPPG terkait pengelolaan sampah organik dan penyediaan IPAL memadai. Sistem kelola limbah MBG memerlukan pembinaan khusus agar limbah tetap ramah dan bermanfaat bagi lingkungan. Namun demikian, belum semua SPPG di Indonesia memiliki IPAL sehingga perlu pendampingan intensif dari Kemen LH.
Penyediaan Komposter dan Fasilitas
Kemen LH memberikan komposter untuk pengolahan sampah organik di setiap SPPG sebagai dukungan infrastruktur. Sistem kelola limbah MBG Lanud Husein Sastranegara memasak hampir 8.000 porsi harian dan mengolah seluruh sisa makanan menjadi pupuk dengan alat komposter yang mampu menghasilkan kompos padat maupun pupuk cair.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Relawan atau warga yang memiliki ternak memanfaatkan sisa makanan SPPG sebagai pakan sehingga tidak terbuang percuma. Masyarakat sekitar dapat memanfaatkan limbah sisa MBG yang diolah menjadi pupuk organik berkualitas. Selain itu, pengolahan minyak jelantah menjadi bio solar menciptakan nilai ekonomi baru dan mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil.
Kesimpulan
Sistem kelola limbah sisa MBG membuktikan program prioritas nasional dapat berjalan berkelanjutan tanpa mencemari lingkungan. IPAL mengolah limbah cair, organik menjadi pupuk dan pakan maggot, serta jelantah diubah menjadi bio solar. Dengan pendampingan pemerintah dan komitmen pengelola SPPG menerapkan prinsip zero waste, program MBG memberi gizi optimal sekaligus melestarikan lingkungan.
