Perbedaan turnover dan retensi karyawan terletak pada aspek tenaga kerja yang menjadi fokus pengukuran. Turnover melihat pergantian atau keluarnya pekerja dari perusahaan dalam periode tertentu.
Sementara itu, retensi berfokus pada kemampuan perusahaan mempertahankan karyawan selama periode tersebut. Keduanya memang membahas pergerakan tenaga kerja, tetapi memberikan sudut pandang yang berbeda.
Angka turnover membantu HR mengetahui seberapa besar pergantian pekerja. Sebaliknya, tingkat retensi memberikan gambaran mengenai karyawan yang tetap bertahan.
Oleh sebab itu, perusahaan dapat memantau keduanya secara bersamaan. Informasi tersebut membantu HR memahami kondisi tenaga kerja sekaligus mengevaluasi pola keluar dan bertahannya pekerja.
Turnover Berfokus pada Karyawan yang Keluar
Turnover karyawan menggambarkan pergantian tenaga kerja akibat pekerja meninggalkan perusahaan. Kondisi tersebut dapat terjadi karena karyawan mengundurkan diri maupun perusahaan mengakhiri hubungan kerja sesuai kondisi dan ketentuan yang berlaku.
HR dapat menghitung tingkat turnover berdasarkan jumlah pekerja yang keluar dalam periode tertentu dibandingkan dengan rata-rata jumlah karyawan. Hasil perhitungan biasanya berbentuk persentase.
Namun, angka tersebut belum menjelaskan alasan pekerja keluar. Karena itu, perusahaan perlu melihat informasi lain seperti jenis turnover, masa kerja, jabatan, divisi, dan alasan pengunduran diri.
Analisis tersebut membantu HR mengetahui apakah pergantian terjadi secara merata atau terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Retensi Melihat Karyawan yang Tetap Bertahan
Berbeda dari turnover, retensi karyawan berfokus pada pekerja yang tetap berada di perusahaan selama periode pengukuran. Perusahaan dapat menggunakan informasi ini untuk melihat kemampuannya mempertahankan tenaga kerja.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki 100 karyawan pada awal tahun. Dari kelompok tersebut, 90 orang masih bekerja hingga akhir periode. Secara sederhana, perusahaan dapat melihat bahwa 90% dari kelompok awal tersebut berhasil bertahan sepanjang periode.
Namun, HR perlu menggunakan definisi dan metode yang konsisten ketika membuat laporan retensi. Karyawan baru yang masuk selama periode, misalnya, perlu diperlakukan sesuai metode pengukuran yang telah perusahaan tetapkan.
Dengan begitu, perbandingan retensi antarperiode memberikan informasi yang lebih konsisten.
Turnover dan Retensi Memberikan Sudut Pandang Berbeda
Turnover dan retensi bukan sekadar dua istilah untuk angka yang sama. Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda dalam pengelolaan tenaga kerja.
Turnover membantu perusahaan menjawab pertanyaan, “Berapa banyak pekerja yang keluar?” Sementara itu, retensi membantu melihat, “Berapa banyak pekerja dari kelompok tertentu yang tetap bertahan?”
Perbedaan tersebut penting ketika jumlah tenaga kerja berubah akibat perekrutan baru. Sebuah perusahaan dapat merekrut banyak karyawan sekaligus mengalami banyak pengunduran diri pada periode yang sama.
Oleh sebab itu, HR sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu metrik. Analisis kedua informasi dapat memberikan gambaran tenaga kerja yang lebih lengkap.
Data Membantu HR Memantau Keduanya
Perusahaan membutuhkan catatan pekerja yang konsisten untuk memantau turnover dan retensi. HR perlu mengetahui tanggal masuk, status pekerjaan, tanggal keluar, divisi, jabatan, serta informasi lain yang relevan.
Selain itu, penggunaan aplikasi absensi online dapat membantu perusahaan memiliki riwayat kehadiran secara lebih terstruktur sebagai bagian dari administrasi tenaga kerja. Informasi tersebut dapat melengkapi data HR ketika perusahaan melakukan evaluasi.
Namun, kehadiran bukan ukuran langsung turnover maupun retensi. HR tetap perlu menggunakan data kepegawaian untuk mengetahui pekerja yang masuk, bertahan, atau keluar selama periode pengukuran.
Pencatatan yang konsisten membantu perusahaan membandingkan kondisi antarperiode tanpa mencampurkan definisi maupun kelompok karyawan yang berbeda.
Kesimpulan
Perbedaan turnover dan retensi karyawan terletak pada fokus pengukurannya. Turnover melihat pekerja yang keluar atau pergantian tenaga kerja, sedangkan retensi melihat karyawan yang tetap bertahan selama periode tertentu.
Perusahaan sebaiknya memantau keduanya karena masing-masing memberikan sudut pandang berbeda. Dengan data dan metode yang konsisten, HR dapat memahami pola tenaga kerja secara lebih menyeluruh serta menentukan evaluasi yang sesuai dengan kondisi perusahaan.
