Dampak turnover karyawan dapat muncul pada berbagai bagian perusahaan ketika pekerja meninggalkan organisasi. Posisi yang kosong dapat mengubah pembagian tugas, sementara perusahaan membutuhkan waktu untuk mencari dan mempersiapkan tenaga kerja pengganti.
Namun, besarnya dampak tidak selalu sama. Posisi pekerja yang keluar, jumlah pergantian, ketersediaan pengganti, serta kesiapan proses transisi dapat memengaruhi kondisi yang muncul setelah karyawan meninggalkan perusahaan.
Oleh karena itu, HR perlu melihat turnover secara menyeluruh. Perusahaan tidak cukup hanya menghitung jumlah pekerja yang keluar, tetapi juga perlu memahami bagaimana pergantian tersebut memengaruhi pekerjaan dan anggota tim yang masih bertahan.
Mengapa Turnover Perlu Mendapat Perhatian?
Pergantian tenaga kerja merupakan bagian dari aktivitas perusahaan. Meski demikian, turnover karyawan yang terjadi berulang dapat menimbulkan tantangan apabila perusahaan tidak memiliki proses transisi yang memadai.
Misalnya, beberapa pekerja meninggalkan satu divisi dalam periode berdekatan. Perusahaan mungkin perlu membagi pekerjaan kepada anggota tim lain sampai memperoleh pengganti.
Dampaknya dapat semakin terasa ketika pekerja yang keluar memegang pengetahuan atau keterampilan tertentu. Tim membutuhkan waktu untuk menyesuaikan pembagian tanggung jawab sekaligus menjaga pekerjaan tetap berjalan.
Karena itu, HR perlu melihat pola turnover berdasarkan divisi, posisi, masa kerja, dan alasan keluar agar dapat memahami kondisi dengan lebih jelas.
5 Dampak Turnover Karyawan
1. Beban kerja anggota tim dapat bertambah
Posisi yang kosong tidak selalu dapat perusahaan isi secara langsung. Selama masa tersebut, pekerja lain mungkin perlu menangani sebagian tanggung jawab tambahan agar aktivitas tetap berjalan.
2. Produktivitas dapat mengalami gangguan
Perubahan pembagian tugas dan proses adaptasi dapat memengaruhi ritme kerja. Karyawan baru juga membutuhkan waktu untuk memahami pekerjaan sebelum dapat menjalankan tanggung jawab secara optimal.
3. Perusahaan menghadapi kebutuhan rekrutmen baru
Karyawan yang keluar dapat membuat perusahaan perlu membuka proses pencarian pengganti. Aktivitas tersebut membutuhkan waktu HR dan manajer untuk melakukan seleksi, wawancara, administrasi, serta onboarding.
4. Pengetahuan dapat ikut hilang
Pekerja berpengalaman sering memiliki pengetahuan mengenai proses, pelanggan, atau penyelesaian masalah tertentu. Jika perusahaan tidak menjalankan serah terima dengan baik, sebagian pengetahuan tersebut dapat ikut hilang ketika karyawan keluar.
5. Kondisi tim dapat berubah
Pergantian anggota dapat mengubah pembagian peran dan pola komunikasi dalam tim. Anggota yang masih bertahan perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut sekaligus membangun koordinasi dengan pekerja baru.
Data Membantu Perusahaan Melihat Dampaknya
HR dapat menggunakan beberapa informasi untuk mengevaluasi dampak pergantian tenaga kerja. Misalnya, perusahaan membandingkan tingkat turnover dengan kekosongan posisi, kebutuhan lembur, pencapaian target, atau waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pengganti.
Catatan administrasi juga perlu tersusun dengan baik. Penggunaan aplikasi absensi online dapat membantu perusahaan memiliki riwayat kehadiran yang lebih terstruktur sebagai salah satu informasi pendukung dalam pengelolaan tenaga kerja.
Namun, HR tidak sebaiknya menggunakan satu jenis informasi untuk menentukan dampak turnover. Kehadiran, misalnya, tidak secara langsung menunjukkan produktivitas maupun kondisi sebuah tim.
Perusahaan perlu menggabungkan data tenaga kerja dengan informasi operasional agar analisis memberikan konteks yang lebih lengkap.
Kurangi Dampak melalui Proses Transisi yang Baik
Perusahaan tidak dapat menghilangkan seluruh turnover. Sebaliknya, HR dapat mempersiapkan proses agar pergantian pekerja tidak terlalu mengganggu pekerjaan.
Dokumentasi menjadi salah satu langkah penting. Karyawan dapat mencatat prosedur, tanggung jawab, perkembangan pekerjaan, dan informasi penting yang perlu diketahui oleh penerusnya.
Selain itu, perusahaan dapat menjalankan serah terima sebelum pekerja keluar serta menyiapkan onboarding yang jelas bagi karyawan baru. Atasan juga perlu mengatur pembagian tugas sementara agar beban tidak terkonsentrasi pada satu anggota tim.
Kesimpulan
Dampak turnover karyawan dapat terlihat pada peningkatan beban kerja, perubahan produktivitas, kebutuhan rekrutmen, kehilangan pengetahuan, hingga kondisi tim. Besarnya pengaruh tersebut bergantung pada posisi yang kosong dan kemampuan perusahaan mengelola transisi.
Karena itu, HR perlu menganalisis turnover bersama informasi tenaga kerja dan operasional lainnya. Dokumentasi, serah terima, pembagian tugas, serta onboarding yang terstruktur dapat membantu perusahaan menjaga aktivitas tetap berjalan ketika terjadi pergantian karyawan.
